Politik kini menjadi Perilaku yang didalamnya ada unsur Sifat dan Watak. Sifat dan Watak itu menjadi sesuatu yang mengganggu Watak dan Kepribadian bangsa Indonesia. Watak dan Kepribadian Bangsa itu tercermin pada Rumusan Pancasila. Perubahan Watak dan Kepribadian itu terjadi dalam waktu yang Singkat oleh Satu hal yang sangat Emosional yaitu Perebutan Kekuasaan. Pemilu sebagai Sarana untuk Perebutan Kekuasaan itu berubah Fungsi menjadi Tujuan sehingga tahapan awal dari Pemilu itu merupakan tahapan paling krusial dan teramat penting. Karena Pemilu dijadikan Tujuan maka energi Bangsa terkuras dan menjadi tidak Fokus pada Tujuan Utamanya yakni Mewujudkan Cita-Cita Kemerdekaan dan Pendirian Negara Indonesia. Elemen bangsa menjadi berkelahi cakar-cakaran. Ujaran dan Ungkapan tak lagi bersifat Argumentatif dan Normatif. Debat menjadi lebih penting ketimbang Musyawarah dan Mufakat. Kemenangan menjadi Mutlak dari pada Kejujuran dan Keikhlasan. Nilai-Nilai Keluhuran Nidi Pekerti menjadi kerikil penghalang yang mesti disingkirkan,diabaikan dan dikubur dalam-dalam. Pemilu menjadi kesempatan balas dendam politik yang diselimuti Tabir Demokratisasi. Indonesia Kehilangan Jati Diri,Marwah dan Kehormatan yang pernah menjadi Symbol Kekuatan dan Keperkasaan Bangsa Indonesia sejak zaman Majapahit,Sriwijaya,Demak,Syiahkuala,Pajajaran. Pemilu 2019 menjadi Cermin untuk sarana menatap masa depan kehidupan Bangsa Indonesia yang Bermartabat dan Berkepribadian yang Utuh dan tidak terpengaruh oleh dorongan-dorongan Ambisi dan Birahi Politik para Petualang yang Memancing di air keruh itu.